Deindustrialisasi


Dapat digambarkan sebagai suatu kondisi dimana industri tidak dapat lagi berperan sebagai basis pendorong utama perekonomian suatu negara atau dengan kata lain kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional terus mengalami penurunan.

Lantas, apa itu deindustrialisasi dan bahayanya untuk Indonesia?

Laporan INDEF pada 2023 lalu menyebut deindustrialisasi sebagai penurunan kontribusi sektor industri pengolahan non-migas terhadap produk domestik bruto (PDB). Potret deindustrialisasi ini tercermin dari lesunya porsi industri pengolahan atau manufaktur terhadap perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun.

Gejala ini sebenarnya wajar dialami negara maju. Pasalnya, mereka sudah bertransformasi menuju perekonomian yang berbasis di sektor jasa.

"Namun, bagi Indonesia, deindustrialisasi dirasakan lebih cepat dari yang diharapkan atau lazim disebut deindustrialisasi prematur. Fenomena ini digambarkan ketika industri pengolahan belum bekerja maksimal, tetapi kontribusinya di dalam ekonomi semakin menurun," jelas laporan tersebut, dikutip Rabu (17/7).

Tanda-tanda deindustrialisasi diklaim sudah dirasakan sejak 2002. Bahkan, penurunan kontribusi sektor industri terjadi paling cepat mulai 2009.

Pada akhirnya, tenaga kerja Indonesia makin berkurang di sektor industri. Kontribusi pekerja industri pengolahan turun hingga 3,47 persen selama lima tahun terakhir, dari 2018-2022.

"Penurunan ini lebih tajam jika dibandingkan pekerja di sektor pertanian yang turun hanya 1,24 persen. Sebaliknya, bagi sektor perdagangan terdapat kenaikan 4,19 persen selama lima tahun terakhir," catat INDEF.

Lantas, apa itu deindustrialisasi dan bahayanya untuk Indonesia?

Laporan INDEF pada 2023 lalu menyebut deindustrialisasi sebagai penurunan kontribusi sektor industri pengolahan non-migas terhadap produk domestik bruto (PDB). Potret deindustrialisasi ini tercermin dari lesunya porsi industri pengolahan atau manufaktur terhadap perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun.

Gejala ini sebenarnya wajar dialami negara maju. Pasalnya, mereka sudah bertransformasi menuju perekonomian yang berbasis di sektor jasa.

"Namun, bagi Indonesia, deindustrialisasi dirasakan lebih cepat dari yang diharapkan atau lazim disebut deindustrialisasi prematur. Fenomena ini digambarkan ketika industri pengolahan belum bekerja maksimal, tetapi kontribusinya di dalam ekonomi semakin menurun," jelas laporan tersebut, dikutip Rabu (17/7).

Tanda-tanda deindustrialisasi diklaim sudah dirasakan sejak 2002. Bahkan, penurunan kontribusi sektor industri terjadi paling cepat mulai 2009.

Pada akhirnya, tenaga kerja Indonesia makin berkurang di sektor industri. Kontribusi pekerja industri pengolahan turun hingga 3,47 persen selama lima tahun terakhir, dari 2018-2022.

"Penurunan ini lebih tajam jika dibandingkan pekerja di sektor pertanian yang turun hanya 1,24 persen. Sebaliknya, bagi sektor perdagangan terdapat kenaikan 4,19 persen selama lima tahun terakhir," catat INDEF.

0 Comments:

Post a Comment