SE2026: Saatnya pelaku usaha berperan dalam menyusun masa depan bisnis berbasis data

 Oleh: Dr. Andri Yudhi Supriadi, SE, ME, Warga Depok

Bayangkan menjalankan usaha tanpa tahu berapa banyak pesaing, sektor yang tumbuh cepat, atau wilayah yang menjanjikan untuk ekspansi. Keputusan hanya berdasar insting, bukan data. Di dunia bisnis yang dinamis, keputusan tanpa data ibarat berlayar tanpa kompas.

Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang disiapkan Badan Pusat Statistik (BPS) sangat penting, bukan hanya bagi pemerintah tetapi juga untuk seluruh pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga korporasi besar. Dari Mei hingga Juli 2026, petugas BPS akan mengunjungi unit usaha secara langsung untuk wawancara atau pengisian kuesioner digital guna mempercepat dan menjaga kualitas data.

Sensus ini akan mendata seluruh kegiatan ekonomi non-pertanian di Indonesia—mulai dari struktur dan karakteristik usaha hingga transformasi digital dan lingkungan bisnis. Pelaku usaha cukup menyiapkan data dasar seperti jenis usaha, jumlah tenaga kerja, estimasi pendapatan, penggunaan teknologi digital, serta tantangan dan prospek usaha ke depan. Semua data dijamin kerahasiaannya sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan hanya disajikan dalam bentuk agregat.


Dari Data Menjadi Daya Saing

Banyak pelaku usaha masih melihat sensus sebagai kegiatan pemerintah semata. Padahal, hasil SE2026 dapat menjadi sumber informasi strategis untuk peta pasar, posisi usaha di tengah kompetisi, dan peluang investasi baru.

Data jumlah dan skala usaha di setiap wilayah membantu mengetahui tingkat persaingan dan potensi pasar. Apakah daerah tertentu sudah jenuh atau masih terbuka peluang untuk usaha baru? Informasi ini memungkinkan pengusaha mengambil keputusan ekspansi dengan risiko lebih terukur.

Selain itu, data juga memuat profil digitalisasi usaha—mulai dari penggunaan teknologi informasi, e-commerce, hingga inovasi ramah lingkungan. Ini menjadi bahan refleksi bagi pengusaha: apakah usaha sudah cukup digital dan kompetitif secara daring? Perbandingan dengan data nasional membantu pelaku usaha menilai daya saing dan menentukan langkah perbaikan.

Membuka Peluang Investasi dan Kolaborasi

SE2026 menampilkan gambaran ekonomi daerah secara rinci. Investor dan pelaku industri dapat melihat sektor yang tumbuh pesat di wilayah tertentu, seperti perdagangan digital di kota menengah, industri kreatif di daerah wisata, atau jasa logistik di kawasan industri baru.

Data ini membuka peluang investasi dan kemitraan baru. Usaha kecil dan menengah dapat meyakinkan mitra dan lembaga keuangan mengenai potensi bisnisnya. Korporasi besar dapat menggunakan data sebagai dasar analisis pasar sebelum ekspansi atau merger.

Data untuk Semua, Bukan Sekadar Angka

BPS menegaskan bahwa data sensus akan dijaga kerahasiaannya dan disajikan secara agregat, bukan data per individu. Tujuannya bukan untuk pajak atau pengawasan, melainkan untuk membangun basis data ekonomi nasional yang dapat digunakan bersama oleh pemerintah, akademisi, investor, dan pelaku usaha.

Dengan partisipasi aktif, data yang dihasilkan semakin akurat dan relevan, lalu kembali ke pelaku usaha dalam bentuk informasi pasar yang lebih tepat, perencanaan bisnis yang lebih baik, dan penguatan daya saing.


Saatnya Menjadi Bagian dari Ekosistem Data

Kita sering mendengar istilah “data is the new oil”—sumber daya paling berharga di era digital. Namun, data hanya bernilai jika lengkap, akurat, dan digunakan.

SE2026 adalah kesempatan besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjadi bagian dari ekosistem data nasional yang mendukung ekonomi transparan, efisien, dan kompetitif.

Mengisi sensus bukan sekadar memenuhi kewajiban statistik, tapi juga berinvestasi untuk masa depan usaha sendiri.

Dari data yang dikumpulkan hari ini, lahir keputusan bisnis yang lebih bijak esok hari.

Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya menghitung jumlah usaha di Indonesia. Ini adalah upaya kolektif memahami arah dan denyut nadi ekonomi bangsa. Ketika pelaku usaha berpartisipasi dan memanfaatkan hasilnya, data bukan milik lembaga statistik, melainkan milik seluruh pelaku ekonomi yang ingin tumbuh bersama.




0 Comments:

Post a Comment